headerphoto

RENUNGAN MENUJU HARI KEMENANGAN, SELAMAT IDUL FITRI 1430 H

Rabu, 16 September 2009 10:21:08 - oleh : admin


Bulan Ramadhan hampir berlalu. Kita memuncaki perjalanan spiritual
satu bulan penuh dengan perayaan Idul Fitri, yang dalam tradisi kita
disebut Lebaran.

Namun, kita perlu sadar, hakikat Idul Fitri tidak terletak pada
momentum perayaan yang sering justru berbau konsumtif, tetapi pada
kesadaran kembali pada fitrah yang suci. Sebab, manusia selalu
memiliki kecenderungan pada kebaikan dan kebenaran dengan fitrah
awalnya yang bersifat alami. Sebaliknya, kejahatan pada dasarnya
bertentangan dengan fitrah manusia sehingga tidak alami.

Saling memaafkan

Kembali pada kesucian—disimbolkan adanya maaf dari Allah—perlu
disempurnakan dengan maaf dari manusia. Dalam Islam ada yang disebut
hak Allah (haqqullah) dan hak manusia (haqqul adami). Dosa kepada
Allah menimbulkan hak bagi Allah untuk menuntut penebusan dari
manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak luput dari perbuatan salah
kepada sesama manusia. Maka, ungkapan "mohon maaf lahir dan batin"
merupakan bentuk pelaksanaan hak manusia. Di situlah kaitan antara
ungkapan minalaidin walfaizin yang berdimensi vertikal dan ungkapan
mohon maaf lahir dan batin yang berdimensi horizontal.

Ajaran Islam melalui nash maupun institusi ibadah amat menekankan
sikap saling memaafkan. Dari sinilah kehidupan kemasyarakatan yang
sehat bisa dimulai. Jika rasa saling curiga dan semangat balas dendam
telah tumbuh, suatu pertanda masyarakat itu sedang sakit. Proses
penyembuhannya harus dilakukan dengan cara damai melalui sikap saling
memaafkan. Dengan cara itu, manusia saling mengenal kultur kehidupan
tiap individu atau kelompok untuk dicarikan penyelesaian terbaik.
Rasanya, tidak ada konflik yang tidak dapat diselesaikan dengan
ketulusan untuk saling memaafkan. Penyelesaian boleh secanggih apa
pun, tetapi hakikatnya kembali pada individu maupun kelompok untuk
saling memaafkan.

Prinsip saling memaafkan adalah nilai-nilai moral agama yang cinta
kedamaian dan keharmonisan hidup. Bahkan dalam sejarah kehidupan Nabi
Muhammad sering digambarkan, betapa pun sering diperlakukan zalim,
beliau tetap memaafkan kezaliman pelakunya. Salah satu sikap yang
mengesankan banyak orientalis adalah saat terjadi fathu makkah
(pembebasan kota Mekkah) dan nabi mendapat kemenangan. Di sanalah
beliau menunjukkan teladan puncak akhlak kaum Muslim (matsal al-a'la)
dengan memaafkan kezaliman kaum Quraisy Mekkah yang selama bertahun-
tahun hidup di Mekkah dulu, hidupnya diboikot dan pengikutnya
dianiaya, malah ada yang dibunuh. Namun, beliau tidak dendam dan
mengembangkan permusuhan. Saat kemenangan di tangan beliau,
kesempatan itu tidak digunakan untuk menghukum musuhnya, apalagi
sebagai ajang balas dendam.

Agama selalu mengingatkan, pada sesuatu yang kita benci mungkin
menyimpan potensi yang bisa disenangi, dan pada sesuatu yang kita
senangi siapa tahu justru menyimpan potensi yang bisa kita benci.
Maka, segala yang terbentang secara menjengkelkan maupun menyenangkan
selalu mengandung hikmah di belakangnya.

Mudik, wujud kembali ke fitri

Sebenarnya lambang-lambang kecenderungan manusia untuk kembali kepada
kefitriannya tidaklah sulit ditemukan dalam aktivitas di hari Idul
Fitri. Kita melihat setiap Idul Fitri orang selalu menyempatkan diri
pulang kampung. Mereka rela berjejal-jejal di kereta atau bus, saling
sikut, saling dorong, meski dengan bekal uang sekadarnya. Bahkan,
banyak yang harus menginap di terminal atau stasiun kereta karena
tidak mendapat tempat. Besoknya berjuang lagi untuk mendapat tiket
pulang. Semua itu dilakukan untuk suatu tujuan yang disebut mudik
Lebaran. Bukankah mudik itu sebenarnya "kembali ke asal, kembali ke
fitrah" dalam aktualisasi antropologis?

Apa yang akan dilakukan di kampung halaman bukan pamer keberhasilan
hidup di perantauan. Tak jarang di antara mereka hidup di rantau
dengan amat sengsara. Dengan mudah kita bisa menebak rata-rata
penghasilan para pendatang yang mengadu nasib di Jakarta atau di
kawasan Jabotabek sebagai pekerja pabrik atau pedagang sektor
informal. Itu pun kalau mereka belum kena PHK akibat pabriknya
digulung krisis.

Jadi, tujuan mudik sama sekali jauh dari kepentingan material.
Sebaliknya, tujuan mudik didorong kecenderungan spiritual, yakni
hasrat untuk kembali kepada orang-orang dekat seperti orangtua,
saudara, kerabat, dan handai tolan untuk meminta maaf, membersihkan
diri dari dosa yang pernah diperbuat.

Jika ritus mudik ini dibawa ke dalam logika agama, dengan asumsi
adanya dorongan spiritual, tidaklah keliru pendapat yang mengatakan
mudik Lebaran merupakan pelaksanaan perintah ajaran agama, yaitu
menjadikan Idul Fitri sebagai sarana untuk bersilaturahmi dan bermaaf-
maafan setelah menjalani pertobatan di bulan suci Ramadhan. Lalu,
disempurnakan dengan melaksanakan kewajiban zakat fitrah, yaitu
proses penyucian diri dengan memberikan makanan pokok atau uang
kepada mereka yang berhak, terutama kaum miskin, agar mereka juga
dapat merasakan kebahagiaan di hari yang fitri.

Kesucian lahir dan batin menjadi motivasi untuk memberikan kesadaran
guna melaksanakan keberpihakan kepada orang-orang yang lemah.
Kesadaran demikian akan menghantarkan kita menjadi manusia yang utuh,
yang diresapi dan disemangati untuk selalu berjiwa besar dengan
saling memaafkan serta kepedulian terhadap kemanusiaan.

Puasa yang telah dilaksanakan akan memberi dampak revolusioner bagi
pembersihan dan pengembangan kedirian menuju keparipurnaan sebagai
khalifatullah.

Ramadhan hadir tiap tahun dan sungguh merugi jika kita hanya
menjadikannya rutinitas, tanpa ada ikhtiar untuk terus memperbaiki
diri. Perintah agama bukanlah "pepesan kosong", tetapi senantiasa
menyimpan kekuatan mendidik dan melatih manusia secara konstruktif.

Bangsa kita yang tengah diterpa berbagai musibah dan krisis saat ini
membutuhkan pribadi-pribadi yang bersih, peduli, dan tercerahkan
untuk turut serta dalam pembangunan menuju keadilan yang menjadi
dambaan selama ini.

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Said Aqiel Siradj  

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Terkini" Lainnya